Kesaksian dari Pelatihan Pelayan Yang Menjadi Teladan (PYMT)

Spread the love

Menjadi Pelayan dan Teladan, Tidak Pandang Usia dan Pengalaman

Pada tanggal 3-8 Maret, Pusat Penerjemahan Alkitab melaksanakan pelatihan PYMT1 di Wilayah Tatelu 1. Pelatihan ini sangat berdampak terhadap pertumbuhan spiritual 22 orang peserta yang berasal dari berbagai organisasi penerjemahan Alkitab di seluruh Indonesia. Berikut adalah kesaksian dari beberapa peserta:

“Dari pelatihan ini saya belajar menjadi murid dan memuridkan. Selama ini saya menjadi pemimpin tapi belum sepenuhnya merendahkan diri …. Kalau dalam tim (penerjemahan, red.), ketika diskusi ada beda-beda pendapat dan usulan. Saya rasa, saya sudah banyak baca tafsiran. Saya pikir saya lebih benar dari mereka. Akibatnya kami saling berdebat. Di sini mereka pikir masukan mereka yang benar, tapi saya pikir saya sudah baca

afsiran-tafsiran dan saya lebih masuk akal. Ini dapat memperlambat penerjemahan Alkitab. Kalau cara bekerja kita seperti ini, satu ayat menghabiskan lebih dari sejam. Alkitab PB Yamdena dikerjakan selama 19-20 tahun … lebih dari 50% waktu dihabiskan untuk berdebat …. Dari pelatihan ini saya sering duduk dan merenungkan. Saya minta petunjuk dari Tuhan: kalau Engkau mau pakai saya, ajarkan saya untuk merendah hati seperti Yesus. Saya hanya mau serahkan sepenuh hidup saya kepada Tuhan. Dialah sumber kehidupan dan pengharapan penuh.”

Agustina, penerjemah Alkitab selama 20 tahun di organisasi YPMD.

“Saya ikut pelatihan ini karena melihat kebutuhan. Di tempat tujuan penjangkauan (misi, red.), belum ada pemberitaan Injil dan orang-orangnya tidak semua pakai bahasa Indonesia. Saya ingin memperlengkapi diri untuk bisa menyampaikan Injil ke suku-suku yang belum mengenal Injil …. Dalam training ini ada begitu banyak hal yang saya butuhkan untuk dipelajari agar bisa lebih maksimal dalam pelayanan saya. Saya sering keluar dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda iman dan saya sering menceritakan Inijl dengan bahasa, gaya, budaya Kristen yang saya bawa. Ini membuat saya ditolak. Ketika saya ikut kegiatan ini saya mengerti kalau dalam hal penggunaan bahasa dalam menyampaikan Injil, kita perlu memberitakan Injil dalam bahasa mereka. Ini seperti melengkapi bagian puzzle yang hilang dari ‘apa yang kurang selama ini dengan cara memberitakan Injil?’ Ketika saya mengikuti pelatihan ini saya mendapatkan bagian yang besar dan penting dalam upaya penjangkauan yang saya lakukan …. Penerjemahan Alkitab adalah salah satu instrumen yang dapat kita gunakan untuk menjangkau suatu suku. Pelatihan ini harus diikuti semua orang Kristen. Dari pelatihan ini kita akan tahu siapa kita, siapa Tuhan dan apa tujuan-Nya bagi hidup kita.”

Paulus (nama samaran), seorang trainee yang telah berupaya menjangkau orang-orang belum percaya selama 6 tahun terakhir.

“Saya baru bergabung, jadi saya baru mengenal penerjemahan Alkitab tiga hari sebelum berangkat menuju ke pelatihan ini …. Materi yang paling berkesan, saya belajar bahwa menjadi orang Kristen itu tidak cukup, harus ada pemuridan bagi orang-orang yang belum tahu tentang Tuhan, kalau tidak demikian maka kita egois. Saya pernah kuliah Teologi, dan saya hanya belajar untuk ilmu-ilmunya, menafsir Alkitab, berbaur dengan jemaat, hanya sebatas itu. Nanti di pelatihan ini saya sadar bahwa ternyata bukan hanya ‘tahu’ saja, tapi harus ‘memberitahukan’.

Sebelumnya, saya hanya diajarkan tentang bagaimana merangkul orang Kristen yang masih malas masuk ibadah dan lain sebagainya. Melihat diri saya tiga hari lalu sebelum menyadari semua ini, saya merasa sedih …. Saya punya beberapa saudara di tempat saya yang awalnya Kristen tapi berpindah keyakinan karena pernikahan. Waktu saya hadir di sini saya jadi punya kerinduan untuk mendoakan mereka, agar mereka kembali mengenal Tuhan. Kalau dijangkau pakai bahasa daerah, ini lebih ampuh, mereka bisa lebih cepat memahami.”

Sindi Salakania, utusan PPA GMIH, seorang lulusan Teologi yang baru mengenal penerjemahan Alkitab 3 hari sebelum mengikuti PYMT1.

id_IDIndonesian