Venno Pontolumiu adalah seorang staf PPA yang diutus untuk melayani ke Cluster WaLa selama 2 minggu untuk mendampingi tenaga IT dalam lokakarya penerjemahan Alkitab di sana. Ia tidak menduga perjalanan yang ia tempuh akan sangat-sangat berbeda dari dugaannya.
“Saya hampir jatuh dua kali, dan kalau saya jatuh, tas saya beserta laptop dan lain-lainnya akan ikut hanyut terbawa arus,” katanya, mengenang saat-saat ia harus berjalan menyeberangi sungai karena cuaca ekstrim menyebabkan jalan darat terputus.
Tentu hal seperti ini sangat mengejutkan, mengingat Venno adalah seorang yang selama ini terbiasa dengan zona nyamannya: bermain game di kamar. Kali ini, Tuhan membawanya melalui perjalanan udara, darat dan lautan, mencapai sebuah desa terpencil bernama Laba Besar.
Kemurahan Hati yang Menyentuh
Penduduk Laba Besar, walau jumlahnya tidak seberapa, sangat mendukung penerjemahan Alkitab. Hal ini terlihat dari sambutan dan bahkan pemberian diri yang total dari warga setempat dalam kehidupan mereka yang sangat sederhana.
Sesampainya di Laba Besar, Venno disambut dengan upacara adat, karena ini adalah kunjungan pertamanya ke desa tersebut. Kakinya dibasuh oleh seorang perempuan lokal dan diusap dengan rambutnya.

“Saya malu, karena kaki saya kotor pada saat itu,” kata Venno. “Anak-anak sekolah bikin barisan di bahu jalan sampai gereja,” lanjutnya lagi, mengenang sambutan yang hangat dari penduduk desa itu.
Venno juga merasa tersentuh dengan tindakan ibu-ibu setempat yang, sejak jam 4 dini hari, telah mulai memasak di pastori untuk menyiapkan sarapan. Ibu-ibu ini menyiapkan semua makanan, hingga kue-kue, bahkan mereka yang membelah kayu bakar tanpa bantuan laki-laki.
“Saya terharu, karena tidak menyangka mereka kerja berat.” ujar Venno.
Dan di tengah-tengah lokakarya, ia pun diterima untuk mengajar sekolah minggu, atau yang di lingkungan Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH) disebut “pengasuh”.
Firman Tuhan yang Dinantikan di WaLa
Penerjemahan Alkitab memang menjadi alat Tuhan untuk mengubahkan kehidupan seseorang. Venno sendiri merasa kagum dengan dampak penerjemahan Alkitab yang ia dengar dari seorang penerjemah yang dulunya pecandu alkohol dan pemadat.
“Saya merasa kagum beliau bisa berhenti merokok dan minum minuman keras setelah satu kali lokakarya,” katanya. Diketahui, si penerjemah dulunya sering mengajak kawan-kawannya untuk mabuk-mabukan, dan bahkan pernah membangkang dan ingin mengusir pendeta yang menasihatinya untuk berhenti minum minuman keras.
Tersentuh dengan semua yang ia lihat di sana, Venno mengaku senang bisa mendampingi tenaga IT di Cluster WaLa. Ia juga terkesan dengan penduduk setempat yang sangat baik terhadapnya.
“Orang-orang di sana sangat baik, mereka sangat sederhana dan sangat murah hati,” kata Venno.
Kadang kita berpikir bahwa kita harus memberi dalam jumlah yang sangat besar untuk menolong pekerjaan misi, namun Venno melihat suatu hal yang lain. Ia menyaksikan bagaimana pemberian yang sederhana dari banyak orang mampu menopang misi. Ia melihat mapalus dalam misi dilaksanakan di tengah-tengah masyarakat Laba Besar.

“Dengan banyaknya keterbatasan, Tuhan tetap sediakan yang dibutuhkan, padahal keterbatasan banyak tapi misi dan pelayanan selesai dengan baik,” tutupnya, sambil juga mengingat bahwa selama ia berada di sana, desa Laba Besar mengalami pemadaman listrik berjam-jam setiap hari.