Bapak Noldy Mangulu diwawancarai mengenai kesannya ketika menjadi penolong uji coba pemeriksaan konsultan untuk penerjemahan Kitab Raja-Raja ke dalam Bahasa Tombulu.

Sebagai penutur asli bahasa Tombulu, ia mengaku terkesan dan tersentuh dengan bahasa yang digunakan. Pak Noldy mengungkapkan bahwa ia merasa merinding ketika dalam penerjemahan tersebut menggunakan kata-kata yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Maknanya lebih mendalam, lebih terasa kena di hati,” kata Pak Noldy.
Di jemaatnya, Pak Noldy mengungkap bahwa bahasa Tombulu hanya dipakai dalam ibadah di gereja pada minggu ke-5 saja, dan itu pun hanya digunakan untuk lagu-lagu ibadah.
Padahal, menurutnya, bahasa Tombulu sangat dekat di hati para penuturnya, dengan makna yang lebih mendalam yang tidak bisa ditangkap dalam bahasa Indonesia.

“Contohnya, kata tiwa’, yang bermakna penghukuman dalam bahasa Indonesia, namun dalam bahasa Tombulu maknanya sangat mendalam, sangat terasa, bahkan saya sampai merinding,” sebut Noldy.
Selain itu, Pak Noldy juga menyebut kata “Weresi”, yang maknanya sangat mendalam, dapat diartikan sebagai “bersih lahir dan batin” dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, ia menyimpulkan bahwa Alkitab dalam bahasa Tombulu akan sangat-sangat dipahami oleh para penuturnya ketimbang ketika mereka menggunakan bahasa lain seperti yang biasanya selama ini.
Pak Noldy juga mengungkapkan keprihatinannya ketika melihat ibadah yang rasanya seremonial,
karena menggunakan bahasa Indonesia. “Dengan bahasa Tombulu, rasanya tersentuh. Kami harap kalau bisa (Alkitab Perjanjian Lama Bahasa Tombulu, red.) selesai secepatnya,” pungkasnya.