Injil Lukas dalam bahasa Tonsea telah diluncurkan setelah dikerjakan dalam waktu 3 tahun. Di balik layar, ada seorang penolong uji coba yang menyembunyikan rahasia besar selama memeriksa terjemahan yang dikerjakan tim. Ia adalah Ibu Marie Wagiu. Bagi para penerjemah, Ibu Marie adalah seorang penolong uji coba yang menjengkelkan dan menyusahkan, karena ia selalu memberikan ulasan yang tidak terfokus dan kesulitan membaca teks.
Suatu hari, salah satu anggota tim memberi saya kacamata dan meminta saya membacakan Alkitab. Waktu itu saya memegang Alkitab dengan terbalik. Di situlah ia mengetahui bahwa saya ini buta huruf.”
“Selama ini, ketika kesulitan membaca teks yang diberikan, saya selalu menjadikan kacamata sebagai alasan,” tutur Marie.

Sulit dibayangkan rasanya, seorang buta huruf menjadi penerjemah Alkitab tertulis. Marie mengaku bahwa ia bahkan tak tahu menulis namanya sendiri, namun mengambil bagian dalam pelayanan ini adalah suatu hal yang amat berharga baginya. Kalau ia mengaku sebagai seorang buta huruf, bisa saja ia tidak berkesempatan lagi mendengar percakapan tentang Yesus dalam tim penerjemah.
Perlahan, Ibu Marie berubah. Dulunya, sepulang kerja, ia langsung pergi tidur. Kini ia selalu menyempatkan diri untuk mencoba membaca Alkitab. Ia belajar baca-tulis secara otodidak demi membantu penerjemahan Alkitab ke dalam bahasanya sebagai penolong uji coba. “Saya sangat bangga dan senang boleh membaca dan mengenal firman Tuhan, walau baru sedikit-sedikit,” ujar Ibu Marie sambil tersenyum lebar.
“Doakan,” lanjutnya, “agar saya bisa cepat membaca dan menulis, bisa jadi berkat bagi keluarga dan sesama.”
Ketika tahu membaca, buku pertama yang menjadi pilihan Ibu Marie adalah firman Tuhan. Ia jatuh cinta dengan firman Tuhan yang tidak hanya mengubah hidupnya, namun menyalakan satu semangat baru yang ditemukannya dalam usia yang “masih” 66 tahun.
